Komunikasi Pemasaran Terpadu

Komunikasi Pemasaran Terpadu (The Marketing Communications Mix)

Dalam dunia pemasaran, iklan merupakan unsur utama dalam program komunikasi pemasaran (marketing communications program), namun bukan satu-satunya dan bukan yang paling penting  untuk membangun ekuitas merek. Namun ada unsur-unsur lainya yang digunakan secara terpadu untuk memperoleh hasil yang maksimal, paduan unsur-unsur tersebut dinamakan promosi atau yang sekarang ini lebih dikenal dengan istilah komunikasi pemasaran terpadu (marketing communications mix).

Menurut Kothler (2006:536) komunikasi pemasaran terpadu terdiri dari enam modus utama komunikasi yaitu:

  1. Periklan (Advertising) – Setiap bentuk presentasi nonpersonal yang dibayar dan promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang teridentifikasi. Contoh: Iklan cetak dan broadcast
    Kemasanluar, kemasan sisipan
    dll
  2. Promosi penjualan (Sales promotion) – Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong uji coba atau pembelian produk atau jasa. Contoh: Kontes, permainan, undian dll
  3. Acara khusus (Events and experiences) – kegiatan dan program Perusahaan yang disponsori dirancang untuk menciptakan yang berhubungan dengan interaksi merek secara harian atau khusus. Contoh:  Entertainment, Festival dll
  4. Hubungan masyarakat dan publisitas (public relations and publicity) -Berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya. Contoh: Seminar, Annual reports dll
  5. Pemasaran langsung (Direct marketing)- Penggunaan mail, telepon, fax, e-mail, atau Internet untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau meminta respon atau dialog dari pelanggan tertentu dan prospek. Contoh: laporan tahunan, pameran dan perdagangan dll
  6. Penjualan personal (Personal selling) – Interaksi dengan satu atau lebih calon pembeli untuk tujuan membuat presentasi, menjawab pertanyaan, dan pengadaan pesanan. Contoh: telemarketing dll…

Kothler, Philip, Marketing management. New Jersey: Pearson Education, 2006

Selengkapnya dapat dibaca disini

Iklan
Animasi · Berpikir Kreatif · Ilmu Desain Komunikasi Visual · Uncategorized

Teknik Bercerita dalam Film Animasi untuk Anak

biru
i like cat

Sebelum memproduksi film animasi, kita harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikan, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini.

Agar dapat bercerita dengan tepat, animator harus mempertimbangkan materi ceritanya. Pemilihan cerita antara lain ditentukan oleh :

1. Pemilihan Tema dan judul yang tepat

Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam
khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”.

Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia;

  • Pada usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: Si wortel, Tomat yang Hebat, Anak ayam yang Manja, kambing Gunung dan Kambing Gibas, anak nakal tersesat di hutan rimba, cerita nenek sihir, orang jahat, raksasa yang menyeramkan dan sebagainya.
  • Pada usia 4-8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti; Perjalanan ke planet Biru, Robot pintar, Anak yang rakus dan sebagainya
  • Pada usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage), seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun, Karni Juara menyanyi dan sebagainya

2.  Waktu Penyajian

Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut;

  • Usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
  • Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit
  • Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit
  • Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan animasi yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.

3. Suasana (situasi dan kondisi)

Suasana disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan disampaikan, setiap pelajaran yang berbeda maka akan berbeda jenis dan materi ceritanya.
Animator dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan disampaikan.
Setiap satu materi cerita disesuaikan dengan satu mata pelajaran yang akan disampaikan, bukan satu atau beberapa cerita untuk semua mata pelajaran.

Seorang animator harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut :

  1. Narasi
  2. Dialog
  3. Ekspresi (terutama mimik muka)
  4. Visualisasi gerak/Peragaan (acting)
  5. Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim
  6. Media/alat peraga
  7. Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.
Grafika · Ilmu Desain Komunikasi Visual

FILE PREPARATION CHECKLIST

Apakah desain final /final artwork (FA)? Final artwork (FA) adalah istilah untuk file-file desain akhir siap untuk mencetak. Ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan karya seni akhir. Poin ini sangat penting untuk menghindari kesalahan pada saat pencetakan yang dapat berdampak pada hasil produksi yang buruk. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk… Continue reading FILE PREPARATION CHECKLIST

Beri peringkat:

Animasi

Anak-anak Tak Menyukai Adegan Kekerasan dalam Film Kartun

Bloomington, Indiana, Secara naluriah anak-anak akan memilih dan menyukai tontonan yang dianggapnya paling menghibur. Film kartun yang menampilkan adegan baku hantam atau saling pukul kurang diminati anak-anak, meski kadang dianggap lucu oleh orang dewasa. Fakta mengejutkan ini terungkap dalam penelitian Andrew J Weaver, seorang profesor komunikasi dari Indiana University. Penelitian yang melibatkan 128 anak dengan… Continue reading Anak-anak Tak Menyukai Adegan Kekerasan dalam Film Kartun

Beri peringkat:

Aksara · Analisis · Berpikir Kreatif · DESAIN GRAFIS · Estetika · Grafika · Iluminasi · Jurnal dan Reverensi · Kreatifitas · Ornamen

REVITALISASI DESAIN ILUMINASI PADA NASKAH JAWA KUNO SURAKARTA

Berbagai seni ragam hias atau ornament Nusantara yang tersebar di bebagai daerah di indonesia tidak semuaya dapat berkembang dengan baik, ada yang bisa hidup dan berkembang, ada sebagian yang telah hilang atau ditinggalkan karena tidak ada generasi penerus yang melestarikanya. Salah satu bentuk ragam hias yang sangat menarik adalah seni atau desain iluminasi yang banyak terdapat pada naskah-naskah kuno di Indonesia terutama yang berasal dari Jawa, Kalimantan, maupun dari Sumatera.Di Jawa naskah-naskah yang mengandung desain iluminasi tersebar di Cirebon Jawa barat, di Jogjakarta maupun di Surakarta Jawa Tengah.

Naskah Jawa kuno beriluminasi yang ada di Jawa Tengah terutama berada di Surakarta yang tersimpan di dalam beberapa museum dan perpustakaan diantaranya di perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta, dan museum Radya Pustaka Surakarta. Berbagai bentuk desain iluminasi tersebut memiliki kekhasan dan keunikan yang menjadi karakteristik dari naskah kuno yang ada di Surakarta.

Desain Iluminasi

Manuskrip dengan Iluminasi adalah manuskrip dimana teks dilengkapi dengan hiasan berupa (1) inisial, yaitu huruf awal pada awal paragraf; (2) batas (marginalia) yaitu Tanda yang dibuat di pinggir buku; dan (3) ilustrasi adegan yang dinamakan miniatur.Dalam definisi yang paling ketat, istilah tersebut hanya mengacu pada manuskrip yang dihias dengan emas atau perak; Namun, dalam penggunaan umum istilah ini mengacu pada manuskrip yang dihias atau diilustrasikan dari tradisi Barat (Herbert, 1911:1).Berdasarankan pernyataan di atas, iluminasi merupakan salah satu bentuk ragam hias dengan beragam bentuk ornamen dan ilustrasi yang menggunakan warna emas dan perak serta warna- warna lainya untuk memperindah tampilan halaman naskah yang berasal dari tradisi barat.

Ornamen yang menghiasi pada desain iluminasi halaman naskah kuno memiliki prinsip yang sama dengan ornamen pada media lainya, yang menggunakan prinsip-prinsip: (1) pengulangan bentuk pola, dimana pola dapat diulang persis melalui pergeseran dan rotasi, Pencerminan pada beberapa sumbu, menghasilkan simetri bilateral, atau simetri rotasi dimana titik radiasi diposisikan di luar pusat dari elemen desain, pola lainnya menggunakan variasi bentuk untuk menambahkan dinamisme organik pada komposisi yang dapat dicapai melalui pergantian warna atau bentuk atau melalui pengulangan skala; (2) keseimbangan, yaitu prinsip bahwa massa visual asimetris dibuat dari bobot yang sama. Prinsip keseimbangan, menghasilkan prinsip kerapatan seragam: ornamen harus secara seragam mengisi ruang yang dialokasikan. Pada beberapa ornamen, elemen massa yang serupa didistribusikan tidak seragam pada ruang. Dalam hal ini, distribusi yang tidak merata dapat diimbangi dengan elemen yang berbeda dalam skala yang lebih kecil menghasilkan keseimbangan di dalam dan di antara tingkat hierarki massa visual; (3) konformasi terhadap kendala geometric, yaitu prinsip yang berkaitan dengan tata letak motif yaitu penempatan motif pada titik-titikgeometrik. Saat mengisi wilayah yang memiliki sudut yang berbeda, elemen desain ornamen harus bisa mengisi setiap sudut.Ornamen harus mengisi ruang dalam batas-batas benda yang bisa menyebabkan kendala geometris. Motif ornamen tumbuhan dengan sulur yang berkelok-kelok, misalnya harus ditempatkan tidak hanya agar pas antara Bagian atas dan bawah panel, namun juga untuk memberikan posisi yang sesuai untuk tunas sekunder dalam mengisi bagian lain dari daerah ornamen. Karena tindakan pengisian ruang juga dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari proses yang dapat diulangi untuk menghasilkan komposisi hirarkis berjenjang dalam rancangan akhir (T. Wong dkk, 1998:426-427).

Keberadaan Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Koleksi Perpustakaan Masjid Agung Surakarta

Perpustakaan Masjid Agung Surakarta terletak di dalam kompleks Masjid Agung Surakarta yang masih termasuk komplek keraton Surakarta, tepatnya di sebelah utara pasar Klewer.Perpustakaan ini memiliki ribuan koleksi buku yang terdiri dari buku-buku cetakan baru dan buku-buku yang berisi naskah kuno serta Al-Quran peninggalan kuno yang ditulis dengan tulisan tangan. Menurut Yufa (24 th), dipandang dari aspek kuantitas naskah jawa kuno yang ada, perpustakaan Masjid Agung Surakarta meiliki koleksi naskah sejumlah 105 buah seperti naskah Tajussalatin, Insan Khamil, Sirojul Muluk, Ilya Alamudin dan sebagainya, beberapa diantaranya adalah Al-Quran. Pada Perpustakaan Masjid Agung Surakarta terdapat 5 buah desain iluminasi dari naskah Al-Quran dengan kualitas desain yang bagus, sayangnya beberapa diantaranya dalam kondisi rusak. Semua desain iluminasi pada naskah Al-Quran tersebut memiliki ragam hias khas ornamen Jawa. Berikut ini desain iluminasi ada naskah Al-Quran yang ada di perpustakaan Masjid Agung Surakarta

Gambar Desain Iluminasi pada Naskah Al Quran Koleksi Perpustakaan Masjid Agung Surakarta (Sumber: Dokumentasi Annas)

Keberadaan Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko pura Mangkunegaran Surakarta

Perpustakaan ini didirikan tahun 1876 oleh KGPAA Mangkunegoro IV.Rekso Pustoko berasal dari kata “rekso” yang berarti merawat dan “pustoko” yang berarti buku. Selain berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan merawat buku-buku koleksi Pura Mangkunegaran, perpustakaan ini jugaberfungsi sebagai “pusat budaya membaca” bagi kalangan keluarga besar Istana Mangkunegaran pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Menurut Darweni (50 th)Perpustakaan Rekso Pustoko pura Mangkunegaran Surakarta memiliki 750 buku kuno, foto-foto kuno, manuskrip jawa, dan arsip-arsip jaman Mangkunegara IV sampai dengan VIII. Dari ratusan buku dan naskah jawa kuno yang dikoleksi Perpustakaan Rekso Pustoko ini hanya ada sedikit naskah yang memliki desain iluminasi, selain itu desain motifnya kebanyakan kurang menarik karena tidak berwarna secara penuh, dan kualitas goresanya kurang halus seperti yang terlihat pada foto berikut ini

Desain Iluminasi pada Naskah Jawa kuno koleksi Reksa Pustaka (Sumber: Dokumentasi Annas)

Keberadaan Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Radya Pustaka Surakarta

Moseum ini terletak di Jalan Slamet Riyadi, masih satu kompleks dengankantor Dinas Kebudayaan dan PariwisataSurakarta dan Taman Sriwedari.Museum Radya Pustaka didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada 18 Oktober 1890. Museum ini pun memiliki nama lain yaitu Loji Kadipolo.Secara etimologi, “radya” berarti pemerintah, sementara “pustaka” berarti surat. Tempat ini dulunya merupakan tempat penyimpanan surat-surat kerajaan. Seiring berjalannya waktu, yang disimpan di dalam tempat ini tidak hanya surat, tapi juga berbagai benda penting yang berhubungan dengan kerajaan.

Desain Iluminasi pada Naskah Jawa kuno koleksi Museum Radya Pustaka aurakarta Sumber: Dokumentasi Annas)

Revitalisasi Desain Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Surakarta

Dari sekian banyak desain iluminasi yang diteliti, ternyata tidak semua gambar iluminasi memiliki kualitas seni dan teknik gambar yang baik. Sehingga kami hanya memilih tiga desain Iluminasi yang terbaik yang layak untuk dibuat vektor digital sebagai sampel dengan pertimbangan dari berbagai aspek seperti keindahan, warna, keberaturan pola, kejelasan gambar, dan kualitas gambar, maka desain iluminasi yang dipilih adalah desain Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta

Pembuatan Vektor Digital Iluminasi dalam Naskah Jawa Kuno Koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta

Proses Pembuatan Vektor Digital Iluminasi

Proses pembuatan Pembuatan Vektor Digital Iluminasi  ditempum melalui beberapa tahap yang dijabarkan sebagai berikut:

  1. Mengambil gambar iluminasi pada naskah menjadi gambar digital.

Naskah yang mengdung gambar iluminasi dipotret dengan kamera digital sehingga menjadi file dalam format JPG.

  1. Menggambar motif secara manual.

File foto gambar iluminasi yang didapatkan dari foto lalu di print pada kertas kemudian ditrace dan digambar unsur polanya secara manual pada kertas putih dengan pensil.

Sketsa dengan pensil (kiri) dan penintaan manual (kanan) (Sumber: Dokumentasi Annas)

Setelah itu kemudian gambar pensil tersebut digambar ulang dengan tinta hitam secara manual menghasilkan motif yang diinginkan sesuai dengan aslinya dengan garis yang lebih tegas dan tajam sehingga mudah untuk dibuat menjadi vektor.

  1. Mendigitalisasi gambar motif.

Pola motif yang selesai digambar manual kemudian diubah formatnya menjadi digital dengan scanner sehingga menjadi file gambar digital dengan format jpg

  1. Mengubah gambar digital jadi vektor.

Gambar motif digital yang sudah dihasilkan kemuadian formatnya diubah menjadi vektor

IMG_0637

Proses mengubah gambar jpg menjadi vektor (Sumber: Dokumentasi Annas)

  1. Mewarnai motif.

Gambar motif yang formatnya sudah berhasil diubah menjadi vektor kemudian diwarnai mendekati warna aslinya

  1. Menyusun motif.

Gambar motif yang vektor yang sudah diwarnai mendekati warna aslinya kemudian disusun membentuk bingkai seperti gambar iluminasi yang asli

A.15

Proses membentuk gambar vektor menjadi bingkai (Sumber: Dokumentasi Annas)

Pengembagan Alternatif Bentuk Vektor Digital Iluminasi

Desain Iluminasi yang sudah dibuat menjadi bentuk vektor mempunyai kesamaan dan kerapian pola dan memiliki tingkat fleksibelitas yang tinggi sehingga bentuk desainya dapat kita ubah menjadi berbagai macam variasi bentuk, ukuran, warna dan sebagainya secara mudah dan cepat. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

Pengembangan bentuk motif digital desain iluminasi 1 (Sumber: Dokumentasi Annas)

Pengembangan bentuk motif digital desain iluminasi 2 (Sumber: Dokumentasi Annas)

Pengembangan bentuk motif digital desain iluminasi 3 (Sumber: Dokumentasi Annas)

Adapun pengembangan bentuk pola tersebut nantinya secara mudah dapat dimanfaatkan untuk membuat desain-desain modern maupun tradisional dalam berbagai format desain akhir lainya misalnya untuk membuat desain motif batik, desain undangan cetak, desain majalah, desain sertifikat, desain untuk dekorasi rumah dan sebagainya

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa, Heddy. 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press.

Creswell, JW. 1998. Qualitative Inquiry anda Research Design: Coosing Among Five Traditions. London: Sage Publication.

Damayanti, Nuning dan Suadi, Haryadi. 2007. Ragam dan Unsur Spiritualitas pada Ilustrasi Naskah Nusantara 1800-1900-an. Journal Visual Art Vol. 1 D, No. 1, 2007, hal 66-84. Bandung: Institut Teknologi Bandung

I.M.G. Arimbawa. 2011. Revitalisasi Seni Tradisional Dalam Kreativitas Seni Rupa Dan Desain Sebagai Upaya Membangun Karakter Bangsa Di Era Global (Bagian II) Artikel dalam situs http://www.isi- dps.ac.id/berita/revitalisasi-seni-tradisional-dalam-kreativitas-seni-rupa-dan-desain-bagian-ii

J . A. Herbert. 1911. Illuminated Manuscripts. New York : G. P. Putnam’s Sons

Meyer, Franz. 1930. A Handbook Of Ornament. New York: Book Publishing Company

Mashuri. 2017. Ilustrasi Dalam Serat Sindujoyo. Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 1. Jakarta: lipi

Prayekti, Rina dan Rukoyah. 2011. Koleksi Filologia Musium Jawa Tengah Ranggawarsita. Semarang: Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.

Tabrani, Primadi. 1999. Belajara dari Sejarah dan Lingkungan. Bandung: Penerbit ITB

Tindaon, Rosmegawati. 2012. Kesenian Tradisional dan Revitalisasi. Jurnal Ekpresi Seni Vol 14, No 2. Padangpanjang: Institut Seni Indonesia Padangpanjang

  1. Wong, Michael dkk. 1998. Computer-Generated Floral Ornament. Dalam Proceedings of the 25th annual conference on Computer graphics and interactive techniques.New York: ACM Publication

Setiawan, Arif. 2014. Serat Wira Iswara Sastra Wulang Abad Ke-19 M. Majalah Jumantara Vol. 5 No. 2. Jakarta: perpusnas

Sisyono, Supardjo, dan Endang. 2012. Iluminasi Dan Ilustrasi Naskah Jawa Di Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta (Sebuah Kajian Kodikologis). Jurnal Atavisme Vol. 15, No. 2. Sidoarjo: Balai Bahasa Jawa Timur

Sunaryo, Aryo. 2011. Ornamen Nusantara: Kajian khusus tentang Ornamen Indonesia. Semarang: Dahara Prise.

http://kbbi.web.id/revitalisasi diakses 6 Juli 2017

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/museum-radya-pustaka-museum-tertua-di-indonesiadiakses 7September 2017

Animasi

Identitas Merek

Sebuah merek dapat dikenali dengan dua cara, yaitu
melalui identitas dan citranya. Identitas merek (brand identity)
dibangun secara terencana dan terarah dari dirinya sendiri
untuk mendapatkan citra positif di benak masyarakat. Menurut
Aaker, manajemen merek dimulai dengan mengembangkan
identitas merek, yang merupakan seperangkat unik asosiasi
merek yang mewakili merek dan menawarkan kepada calon
pelanggan suatu citra merek. Aaker (1996:78) memandang
Identitas merek sebagai: (1) Produk, (2) Organisasasi, (3)
Pribadi, dan (4) simbol

www.anazdesign.com/dokumen

Animasi

Pengertian Pemasaran

Manusia melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan penghasilan dari berbagai bidang usaha guna mencukupi berbagai kebutuhan pribadi maupun sosial yang begitu beragam. Semua usaha manusia dalam mecukupi kebutuhannya tersebut berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi. Manusia kemudian mengubah kebutuhan pribadi atau sosial menjadi peluang bisnis yang menguntungkan melalui kegiatan pemasaran. Kothler (202:4), mendefinisikan pemasaran sebagai suatu proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, menawarkan, dan bertukar produk dan jasa dari nilai bebas dengan orang lain. Sedangkan secara kelembagaan, American Marketing Association (AMA) mendefinisikan pemasaran sebagai aktivitas, mengatur lembaga, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat pada umumnya.

Kegiatan pemasaran tidak hanya sekedar menjual produk, namun juga melibatkan pengelolaan produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pemasaran juga membutuhkan komunikasi untuk menyebarkan informasi yang membantu pelanggan menentukan apakah produk tersebut akan  memenuhi kebutuhan mereka atau tidak

Berpikir Kreatif · Komunikasi · Komunikasi Pemasaran Terpadu · Periklanan

Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuanya

Setiap iklan dipersiapkan untuk tujuan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, baik yang berkaitan dengan produk maupun institusi tertentu. Dalam menentukan tujuan periklanan ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu: Membuat tujuan periklanan yang dinyatakan dalam bentuk kongkrit dan terukur, menentukan target audiens/pemirsa, Menentukan tolak ukur dan tingkat perubahan, dan menentukan jangka waktu untuk mencapai tujuan (Belch, 2004:206)

Menurut Pride dan Ferrell (2009: 432-433), berdasarkan tujuanya  iklan produk (Product Advertising) terdiri dari empat macam, yaitu:

  • Iklan perintis (pioneer advertising), merupakan iklan yang tujuanya untuk merangsang permintaan produk (bukan merek tertentu) dengan menginformasikan pelanggan potensial tentang fitur, kegunaan, dan manfaat produk, jenis iklan ini digunakan bila produk berada dalam tahap perkenalan produk. Misalnya adalah iklan Fruit Tea yang mengiklankan bentuk kemasan barunya.
  • Iklan kompetitif (competitive advertising) atau iklan persuasif, merupakan iklan yang tujuannya untuk mendorong permintaan terhadap merek tertentu dengan mempromosikan fitur merek, penggunaan, keuntungan, dan untuk membuat perbandingan produk secara langsung maupun tidak langsung. Contoh iklan persaingan yang cukup menarik adalah iklan merek Pepsi, Pepsi dan Coca-Cola merupakan dua minuman soda yang bersaing cukup ketat. Kedua merek tersebut sering menampilkan iklan persaingan secara vulgar di Amerika.
  • Iklan pengingat (reminder advertising), merupakan iklan yang tujuanya untuk memberitahu pelanggan tentang keberadaan merek tertentu yang masih berada di sekitar nya dan masih menawarkan karakteristik, penggunaan, dan keuntungan tertentu.
  • Iklan penguatan (reinforcement advertising), merupakan iklan yang tujuanya untuk menjamin pengguna saat ini, bahwa mereka telah memilih merek yang tepat dan memberitahu mereka bagaimana mendapatkan kepuasan maksimal dari merek tersebut.
Reverensi

- E Belch, George dan A Belch, Michael, Advertising And Promotion: An Integrated Marketing Communication Perspective. New York: McGraw-Hill, 2004 
- M. Pride, William, O. C. Ferrell, Foundations Of Marketing. Boston: Houghton Mifflin Company, 2009.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat video berikut ini

Berpikir Kreatif · Komunikasi Pemasaran Terpadu · Kreatifitas

5W1H ANALYSIS

Kipling Questions being one of the good problem solvers analysis, which involves thinking investigation. Questions were discovered by Rudyard Kipling in the form of six questions that also referred as analysis (5W + 1H), which consists of several questions as follows:

What?
Who?
Where?
hen?
Why?
How?

Six of these questions can help solve a problem and spark ideas. But sometimes people use or interpret the questions incorrectly, so that the analysis carried out will be not optimal.

The correct applications of six Kipling’s questions is like in this example:

What is the problem?
Who is the audience?
Where these problems occur?
When did this problem occur?
Why does this problem occur?
As well as How can you solve this problem?

With the right questions, the applications will result in a complete analysis of the issues so that the solution will be achieved precisely and efficiently.