Aksara · Analisis · Berpikir Kreatif · DESAIN GRAFIS · Estetika · Grafika · Iluminasi · Jurnal dan Reverensi · Kreatifitas · Ornamen

REVITALISASI DESAIN ILUMINASI PADA NASKAH JAWA KUNO SURAKARTA

Berbagai seni ragam hias atau ornament Nusantara yang tersebar di bebagai daerah di indonesia tidak semuaya dapat berkembang dengan baik, ada yang bisa hidup dan berkembang, ada sebagian yang telah hilang atau ditinggalkan karena tidak ada generasi penerus yang melestarikanya. Salah satu bentuk ragam hias yang sangat menarik adalah seni atau desain iluminasi yang banyak terdapat pada naskah-naskah kuno di Indonesia terutama yang berasal dari Jawa, Kalimantan, maupun dari Sumatera.Di Jawa naskah-naskah yang mengandung desain iluminasi tersebar di Cirebon Jawa barat, di Jogjakarta maupun di Surakarta Jawa Tengah.

Naskah Jawa kuno beriluminasi yang ada di Jawa Tengah terutama berada di Surakarta yang tersimpan di dalam beberapa museum dan perpustakaan diantaranya di perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta, dan museum Radya Pustaka Surakarta. Berbagai bentuk desain iluminasi tersebut memiliki kekhasan dan keunikan yang menjadi karakteristik dari naskah kuno yang ada di Surakarta.

Desain Iluminasi

Manuskrip dengan Iluminasi adalah manuskrip dimana teks dilengkapi dengan hiasan berupa (1) inisial, yaitu huruf awal pada awal paragraf; (2) batas (marginalia) yaitu Tanda yang dibuat di pinggir buku; dan (3) ilustrasi adegan yang dinamakan miniatur.Dalam definisi yang paling ketat, istilah tersebut hanya mengacu pada manuskrip yang dihias dengan emas atau perak; Namun, dalam penggunaan umum istilah ini mengacu pada manuskrip yang dihias atau diilustrasikan dari tradisi Barat (Herbert, 1911:1).Berdasarankan pernyataan di atas, iluminasi merupakan salah satu bentuk ragam hias dengan beragam bentuk ornamen dan ilustrasi yang menggunakan warna emas dan perak serta warna- warna lainya untuk memperindah tampilan halaman naskah yang berasal dari tradisi barat.

Ornamen yang menghiasi pada desain iluminasi halaman naskah kuno memiliki prinsip yang sama dengan ornamen pada media lainya, yang menggunakan prinsip-prinsip: (1) pengulangan bentuk pola, dimana pola dapat diulang persis melalui pergeseran dan rotasi, Pencerminan pada beberapa sumbu, menghasilkan simetri bilateral, atau simetri rotasi dimana titik radiasi diposisikan di luar pusat dari elemen desain, pola lainnya menggunakan variasi bentuk untuk menambahkan dinamisme organik pada komposisi yang dapat dicapai melalui pergantian warna atau bentuk atau melalui pengulangan skala; (2) keseimbangan, yaitu prinsip bahwa massa visual asimetris dibuat dari bobot yang sama. Prinsip keseimbangan, menghasilkan prinsip kerapatan seragam: ornamen harus secara seragam mengisi ruang yang dialokasikan. Pada beberapa ornamen, elemen massa yang serupa didistribusikan tidak seragam pada ruang. Dalam hal ini, distribusi yang tidak merata dapat diimbangi dengan elemen yang berbeda dalam skala yang lebih kecil menghasilkan keseimbangan di dalam dan di antara tingkat hierarki massa visual; (3) konformasi terhadap kendala geometric, yaitu prinsip yang berkaitan dengan tata letak motif yaitu penempatan motif pada titik-titikgeometrik. Saat mengisi wilayah yang memiliki sudut yang berbeda, elemen desain ornamen harus bisa mengisi setiap sudut.Ornamen harus mengisi ruang dalam batas-batas benda yang bisa menyebabkan kendala geometris. Motif ornamen tumbuhan dengan sulur yang berkelok-kelok, misalnya harus ditempatkan tidak hanya agar pas antara Bagian atas dan bawah panel, namun juga untuk memberikan posisi yang sesuai untuk tunas sekunder dalam mengisi bagian lain dari daerah ornamen. Karena tindakan pengisian ruang juga dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari proses yang dapat diulangi untuk menghasilkan komposisi hirarkis berjenjang dalam rancangan akhir (T. Wong dkk, 1998:426-427).

Keberadaan Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Koleksi Perpustakaan Masjid Agung Surakarta

Perpustakaan Masjid Agung Surakarta terletak di dalam kompleks Masjid Agung Surakarta yang masih termasuk komplek keraton Surakarta, tepatnya di sebelah utara pasar Klewer.Perpustakaan ini memiliki ribuan koleksi buku yang terdiri dari buku-buku cetakan baru dan buku-buku yang berisi naskah kuno serta Al-Quran peninggalan kuno yang ditulis dengan tulisan tangan. Menurut Yufa (24 th), dipandang dari aspek kuantitas naskah jawa kuno yang ada, perpustakaan Masjid Agung Surakarta meiliki koleksi naskah sejumlah 105 buah seperti naskah Tajussalatin, Insan Khamil, Sirojul Muluk, Ilya Alamudin dan sebagainya, beberapa diantaranya adalah Al-Quran. Pada Perpustakaan Masjid Agung Surakarta terdapat 5 buah desain iluminasi dari naskah Al-Quran dengan kualitas desain yang bagus, sayangnya beberapa diantaranya dalam kondisi rusak. Semua desain iluminasi pada naskah Al-Quran tersebut memiliki ragam hias khas ornamen Jawa. Berikut ini desain iluminasi ada naskah Al-Quran yang ada di perpustakaan Masjid Agung Surakarta

Gambar Desain Iluminasi pada Naskah Al Quran Koleksi Perpustakaan Masjid Agung Surakarta (Sumber: Dokumentasi Annas)

Keberadaan Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko pura Mangkunegaran Surakarta

Perpustakaan ini didirikan tahun 1876 oleh KGPAA Mangkunegoro IV.Rekso Pustoko berasal dari kata “rekso” yang berarti merawat dan “pustoko” yang berarti buku. Selain berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan merawat buku-buku koleksi Pura Mangkunegaran, perpustakaan ini jugaberfungsi sebagai “pusat budaya membaca” bagi kalangan keluarga besar Istana Mangkunegaran pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Menurut Darweni (50 th)Perpustakaan Rekso Pustoko pura Mangkunegaran Surakarta memiliki 750 buku kuno, foto-foto kuno, manuskrip jawa, dan arsip-arsip jaman Mangkunegara IV sampai dengan VIII. Dari ratusan buku dan naskah jawa kuno yang dikoleksi Perpustakaan Rekso Pustoko ini hanya ada sedikit naskah yang memliki desain iluminasi, selain itu desain motifnya kebanyakan kurang menarik karena tidak berwarna secara penuh, dan kualitas goresanya kurang halus seperti yang terlihat pada foto berikut ini

Desain Iluminasi pada Naskah Jawa kuno koleksi Reksa Pustaka (Sumber: Dokumentasi Annas)

Keberadaan Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Radya Pustaka Surakarta

Moseum ini terletak di Jalan Slamet Riyadi, masih satu kompleks dengankantor Dinas Kebudayaan dan PariwisataSurakarta dan Taman Sriwedari.Museum Radya Pustaka didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada 18 Oktober 1890. Museum ini pun memiliki nama lain yaitu Loji Kadipolo.Secara etimologi, “radya” berarti pemerintah, sementara “pustaka” berarti surat. Tempat ini dulunya merupakan tempat penyimpanan surat-surat kerajaan. Seiring berjalannya waktu, yang disimpan di dalam tempat ini tidak hanya surat, tapi juga berbagai benda penting yang berhubungan dengan kerajaan.

Desain Iluminasi pada Naskah Jawa kuno koleksi Museum Radya Pustaka aurakarta Sumber: Dokumentasi Annas)

Revitalisasi Desain Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Surakarta

Dari sekian banyak desain iluminasi yang diteliti, ternyata tidak semua gambar iluminasi memiliki kualitas seni dan teknik gambar yang baik. Sehingga kami hanya memilih tiga desain Iluminasi yang terbaik yang layak untuk dibuat vektor digital sebagai sampel dengan pertimbangan dari berbagai aspek seperti keindahan, warna, keberaturan pola, kejelasan gambar, dan kualitas gambar, maka desain iluminasi yang dipilih adalah desain Iluminasi pada Naskah Jawa Kuno Koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta

Pembuatan Vektor Digital Iluminasi dalam Naskah Jawa Kuno Koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta

Proses Pembuatan Vektor Digital Iluminasi

Proses pembuatan Pembuatan Vektor Digital Iluminasi  ditempum melalui beberapa tahap yang dijabarkan sebagai berikut:

  1. Mengambil gambar iluminasi pada naskah menjadi gambar digital.

Naskah yang mengdung gambar iluminasi dipotret dengan kamera digital sehingga menjadi file dalam format JPG.

  1. Menggambar motif secara manual.

File foto gambar iluminasi yang didapatkan dari foto lalu di print pada kertas kemudian ditrace dan digambar unsur polanya secara manual pada kertas putih dengan pensil.

Sketsa dengan pensil (kiri) dan penintaan manual (kanan) (Sumber: Dokumentasi Annas)

Setelah itu kemudian gambar pensil tersebut digambar ulang dengan tinta hitam secara manual menghasilkan motif yang diinginkan sesuai dengan aslinya dengan garis yang lebih tegas dan tajam sehingga mudah untuk dibuat menjadi vektor.

  1. Mendigitalisasi gambar motif.

Pola motif yang selesai digambar manual kemudian diubah formatnya menjadi digital dengan scanner sehingga menjadi file gambar digital dengan format jpg

  1. Mengubah gambar digital jadi vektor.

Gambar motif digital yang sudah dihasilkan kemuadian formatnya diubah menjadi vektor

IMG_0637

Proses mengubah gambar jpg menjadi vektor (Sumber: Dokumentasi Annas)

  1. Mewarnai motif.

Gambar motif yang formatnya sudah berhasil diubah menjadi vektor kemudian diwarnai mendekati warna aslinya

  1. Menyusun motif.

Gambar motif yang vektor yang sudah diwarnai mendekati warna aslinya kemudian disusun membentuk bingkai seperti gambar iluminasi yang asli

A.15

Proses membentuk gambar vektor menjadi bingkai (Sumber: Dokumentasi Annas)

Pengembagan Alternatif Bentuk Vektor Digital Iluminasi

Desain Iluminasi yang sudah dibuat menjadi bentuk vektor mempunyai kesamaan dan kerapian pola dan memiliki tingkat fleksibelitas yang tinggi sehingga bentuk desainya dapat kita ubah menjadi berbagai macam variasi bentuk, ukuran, warna dan sebagainya secara mudah dan cepat. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

Pengembangan bentuk motif digital desain iluminasi 1 (Sumber: Dokumentasi Annas)

Pengembangan bentuk motif digital desain iluminasi 2 (Sumber: Dokumentasi Annas)

Pengembangan bentuk motif digital desain iluminasi 3 (Sumber: Dokumentasi Annas)

Adapun pengembangan bentuk pola tersebut nantinya secara mudah dapat dimanfaatkan untuk membuat desain-desain modern maupun tradisional dalam berbagai format desain akhir lainya misalnya untuk membuat desain motif batik, desain undangan cetak, desain majalah, desain sertifikat, desain untuk dekorasi rumah dan sebagainya

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa, Heddy. 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press.

Creswell, JW. 1998. Qualitative Inquiry anda Research Design: Coosing Among Five Traditions. London: Sage Publication.

Damayanti, Nuning dan Suadi, Haryadi. 2007. Ragam dan Unsur Spiritualitas pada Ilustrasi Naskah Nusantara 1800-1900-an. Journal Visual Art Vol. 1 D, No. 1, 2007, hal 66-84. Bandung: Institut Teknologi Bandung

I.M.G. Arimbawa. 2011. Revitalisasi Seni Tradisional Dalam Kreativitas Seni Rupa Dan Desain Sebagai Upaya Membangun Karakter Bangsa Di Era Global (Bagian II) Artikel dalam situs http://www.isi- dps.ac.id/berita/revitalisasi-seni-tradisional-dalam-kreativitas-seni-rupa-dan-desain-bagian-ii

J . A. Herbert. 1911. Illuminated Manuscripts. New York : G. P. Putnam’s Sons

Meyer, Franz. 1930. A Handbook Of Ornament. New York: Book Publishing Company

Mashuri. 2017. Ilustrasi Dalam Serat Sindujoyo. Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 1. Jakarta: lipi

Prayekti, Rina dan Rukoyah. 2011. Koleksi Filologia Musium Jawa Tengah Ranggawarsita. Semarang: Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.

Tabrani, Primadi. 1999. Belajara dari Sejarah dan Lingkungan. Bandung: Penerbit ITB

Tindaon, Rosmegawati. 2012. Kesenian Tradisional dan Revitalisasi. Jurnal Ekpresi Seni Vol 14, No 2. Padangpanjang: Institut Seni Indonesia Padangpanjang

  1. Wong, Michael dkk. 1998. Computer-Generated Floral Ornament. Dalam Proceedings of the 25th annual conference on Computer graphics and interactive techniques.New York: ACM Publication

Setiawan, Arif. 2014. Serat Wira Iswara Sastra Wulang Abad Ke-19 M. Majalah Jumantara Vol. 5 No. 2. Jakarta: perpusnas

Sisyono, Supardjo, dan Endang. 2012. Iluminasi Dan Ilustrasi Naskah Jawa Di Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta (Sebuah Kajian Kodikologis). Jurnal Atavisme Vol. 15, No. 2. Sidoarjo: Balai Bahasa Jawa Timur

Sunaryo, Aryo. 2011. Ornamen Nusantara: Kajian khusus tentang Ornamen Indonesia. Semarang: Dahara Prise.

http://kbbi.web.id/revitalisasi diakses 6 Juli 2017

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/museum-radya-pustaka-museum-tertua-di-indonesiadiakses 7September 2017

Iklan
Berpikir Kreatif · Komunikasi · Komunikasi Pemasaran Terpadu · Periklanan

Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuanya

Setiap iklan dipersiapkan untuk tujuan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, baik yang berkaitan dengan produk maupun institusi tertentu. Dalam menentukan tujuan periklanan ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu: Membuat tujuan periklanan yang dinyatakan dalam bentuk kongkrit dan terukur, menentukan target audiens/pemirsa, Menentukan tolak ukur dan tingkat perubahan, dan menentukan jangka waktu untuk mencapai tujuan (Belch, 2004:206)

Menurut Pride dan Ferrell (2009: 432-433), berdasarkan tujuanya  iklan produk (Product Advertising) terdiri dari empat macam, yaitu:

  • Iklan perintis (pioneer advertising), merupakan iklan yang tujuanya untuk merangsang permintaan produk (bukan merek tertentu) dengan menginformasikan pelanggan potensial tentang fitur, kegunaan, dan manfaat produk, jenis iklan ini digunakan bila produk berada dalam tahap perkenalan produk. Misalnya adalah iklan Fruit Tea yang mengiklankan bentuk kemasan barunya.
  • Iklan kompetitif (competitive advertising) atau iklan persuasif, merupakan iklan yang tujuannya untuk mendorong permintaan terhadap merek tertentu dengan mempromosikan fitur merek, penggunaan, keuntungan, dan untuk membuat perbandingan produk secara langsung maupun tidak langsung. Contoh iklan persaingan yang cukup menarik adalah iklan merek Pepsi, Pepsi dan Coca-Cola merupakan dua minuman soda yang bersaing cukup ketat. Kedua merek tersebut sering menampilkan iklan persaingan secara vulgar di Amerika.
  • Iklan pengingat (reminder advertising), merupakan iklan yang tujuanya untuk memberitahu pelanggan tentang keberadaan merek tertentu yang masih berada di sekitar nya dan masih menawarkan karakteristik, penggunaan, dan keuntungan tertentu.
  • Iklan penguatan (reinforcement advertising), merupakan iklan yang tujuanya untuk menjamin pengguna saat ini, bahwa mereka telah memilih merek yang tepat dan memberitahu mereka bagaimana mendapatkan kepuasan maksimal dari merek tersebut.
Reverensi

- E Belch, George dan A Belch, Michael, Advertising And Promotion: An Integrated Marketing Communication Perspective. New York: McGraw-Hill, 2004 
- M. Pride, William, O. C. Ferrell, Foundations Of Marketing. Boston: Houghton Mifflin Company, 2009.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat video berikut ini

Berpikir Kreatif · Komunikasi Pemasaran Terpadu · Kreatifitas

5W1H ANALYSIS

Kipling Questions being one of the good problem solvers analysis, which involves thinking investigation. Questions were discovered by Rudyard Kipling in the form of six questions that also referred as analysis (5W + 1H), which consists of several questions as follows:

What?
Who?
Where?
hen?
Why?
How?

Six of these questions can help solve a problem and spark ideas. But sometimes people use or interpret the questions incorrectly, so that the analysis carried out will be not optimal.

The correct applications of six Kipling’s questions is like in this example:

What is the problem?
Who is the audience?
Where these problems occur?
When did this problem occur?
Why does this problem occur?
As well as How can you solve this problem?

With the right questions, the applications will result in a complete analysis of the issues so that the solution will be achieved precisely and efficiently.

Analisis · Animasi · Berpikir Kreatif · Estetika · Ilmu Desain Komunikasi Visual · Jurnal dan Reverensi · Komunikasi · Komunikasi Pemasaran Terpadu

Mengalisis Iklan Televisi Menggunakan Estetika Media Terapan

Berikut ini contoh analisi iklan televisi menggunakan Estetik Media Terapan Herbert Zettl

KAJIAN BENTUK VISUAL IKLAN (STUDI KASUS IKLAN OREO VERSI BAYANGKAN KUBERI OREO SAAT RAMADHAN)

Annas Marzuki Sulaiman

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bentuk visual dalam iklan Oreo versi “Bayangkan Kuberi Oreo Saat Ramadhan” di televisi dengan menggunakan pendekatan Estetika Media Terapan. Dari analisis yang telah dilakukan berdasarkan kontekstual visual iklan yang membagi elemen gambarmenjadi lima elemen yaitu: cahaya dan warna, ruang dua-dimensi, ruang tiga-dimensi, waktu/gerakan, dan suara. Iklan Oreo “Versi Bayangkan Ku Beri Oreo Saat Ramadhan” menggambarkan bahwa Oreo sebagai brand yang sangat akrab dengan konsumen, menghadirkan momen Ramadhan yang istimewa dengan saling berbagi menikmati keajaiban dan membangkitkan kembali jiwa kanak-kanak. Pada akhir iklan terdapat adegan yang menunjukkan bahwa iklan Oreo versi ramadhan bagian dari kampanye iklan global yang sudah ada yaitu “Berbagi Keajaiban”. Selain itu, Iklan Oreo Versi Ramadhan ini merupakan jenis pengingat (reminder advertising), tujuannya untuk memberitahu pelanggan tentang keberadaan merek oreo yang menawarkan karakteristik dan penggunaan yang sama.

Selengkapnya dapat dilihat dan didownload di sini :

http://publikasi.dinus.ac.id/index.php/andharupa/article/view/1182

Analisis · Berpikir Kreatif

KAJIAN BENTUK VISUAL IKLAN (STUDI KASUS IKLAN OREO VERSI BAYANGKAN KUBERI OREO SAAT RAMADHAN)

Kajian Estetika Media Terapan

 

Abstract

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bentuk visual dalam iklan Oreo versi “Bayangkan Kuberi Oreo Saat Ramadhan” di televisi dengan menggunakan pendekatan Estetika Media Terapan. Dari analisis yang telah dilakukan berdasarkan kontekstual visual iklan yang membagi elemen gambarmenjadi lima elemen yaitu: cahaya dan warna, ruang dua-dimensi, ruang tiga-dimensi, waktu/gerakan, dan suara. Iklan Oreo “Versi Bayangkan Ku Beri Oreo Saat Ramadhan” menggambarkan bahwa Oreo sebagai brand yang sangat akrab dengan konsumen, menghadirkan momen Ramadhan yang istimewa dengan saling berbagi menikmati keajaiban dan membangkitkan kembali jiwa kanak-kanak. Pada akhir iklan terdapat adegan yang menunjukkan bahwa iklan Oreo versi ramadhan bagian dari kampanye iklan global yang sudah ada yaitu “Berbagi Keajaiban”. Selain itu, Iklan Oreo Versi Ramadhan ini merupakan jenis pengingat (reminder advertising), tujuannya untuk memberitahu pelanggan tentang keberadaan merek oreo yang menawarkan karakteristik dan penggunaan yang sama.

Kata Kunci: iklan, televisi, Oreo, Estetika Mesia Terapan, Ramadhan

 

Abstract

The purpose of this study was to determine and analyze the visual form in the Oreo ads version  “Imagine Me Give Oreo During Ramadhan” on television by using the approach of Applied Media Aesthetics. From the analysis has been done based on contextual visual ads that divides the picture elements of video ads in five elements namely: light and color, the space of two-dimensional, three-dimensional space, time/motion and sound. The Oreo ads version “Imagine Me Give Oreo During Ramadhan” illustrates that the Oreo as a brand is very familiar with the consumers, presenting the moment of Ramadan special by sharing experience the magic and rekindle the spirit of childhood. At the end of the ads is contained scenes show that this Ramadhan version Oreo ads is part of a global advertising campaign that already exists is “Sharing Miracles”. In addition, this Ramadhan version Oreo ads is a kind reminder (reminders advertising), aim to inform customers about the existence of Oreo brand still offers characteristics, and the same usage.

Keywords: advertising, television, Oreo, Applied Media Aesthetic, Ramadha

lihat selengkapnya:

http://publikasi.dinus.ac.id/index.php/andharupa/article/view/1182